Sepintas Tentang Uber Rebel's


Bandung - Kontroversi seputar komunitas underground di kota Bandung menyeruak selepas terjadinya insiden konser musik underground yang membuat sebelas penontonnya meninggal dunia. Underground pun mendapat sorotan publik dari berbagai kalangan. Segala hal yang berbau underground akan selalu menjadi informasi yang menarik untuk disimak.

Ketika underground pun disebut-sebut sebagai ideologi perlawanan, ketika itupun underground menjadi sebuah komunitas yang diyakini melahirkan semangat independensi di kalangan anak muda. D I Y (baca: di-ai-way) atau Do it yourself, dalam kalimat itulah spirit kemandirian itu terejawantahkan. Spirit ini menciptakan berbagai kreatifitas tak terduga, hingga memunculkan wabah independensi yang tak hanya diakui oleh segelintir kalangan, namun merebak seperti jamur.

Ujung Berung Rebels, sebuah komunitas underground di daerah Ujung Berung (Uber), Bandung Timur merupakan salah satu penggagas lahirnya etos kerja independensi tersebut di kota Bandung. Komunitas ini pulalah yang ikut berpengaruh dalam tumbuh kembangnya band-band underground seperti Burgerkill, Jasad, Funeral, Forgotten, termasuk Beside, grup band yang kini jadi sorotan atas peristiwa di AACC.

Ketidaksetujuan pada kultur musik di tahun 80-an menjadi pemicu lahirnya independensi itu. Sebuah kultur senioritas, kultur festival yang dianggap menghambat kreatifitas, karena hanya grup band pemenang yang memiliki kesempatan untuk rekaman. "Kultur senioritas, kultur festival menghambat grup-grup lain yang tidak keluar sebagai pemenang untuk melakukan rekaman," tutur salah satu anggota senior Ujung Berung Rebels, Iman Rahman, yang lebih akrab disapa Kimung (29).

Berawal dari nama Homeless Crew di tahun 94-an, merupakan embrio Ujung Berung Rebels. Nama itu diberikan sebagai salah satu bentuk penolakan terhadap filosofi rumah. Ketika rumah selalu dijadikan patokan sebuah kenyamanan, ketika rumah menjadi satu-satunya tempat untuk berteduh, Homeless Crew coba mematahkan pemahaman tersebut. Walaupun Homeless diartikan tak memiliki rumah, diakui Kimung, para anggota Homeless Crew pun memiliki rumah dan keluarga. Bahkan, bisa dikatakan mayoritas dari mereka berasal dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik. Namun ketika dihadapkan dengan realitas sosial dan budaya seringkali menimbulkan benturan-benturan dalam diri individu. Hingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin disalurkan secara ekstrim. Misalnya melalui lirik-lirik satanik atau pertanyaan paling ekstrim tentang Tuhan.

Metal, menjadi filosofi. Awalnya hanya 20 orang. Dari 20 orang tersebut, hanya 8-10 orang yang tergabung dalam grup band. Dipelopori oleh band-band seperti Funeral, Jasad, Orthodox dan Necromency. Sebuah acara dengan nama Bedebah (Bandung Death Metal) sempat diudarakan di sebuah radio di Ujung Berung di tahun 1992. Kupasan tentang death metal menjadi topik yang mendapat sambutan hangat dari pendengar. "Saat itu sambutan masyarakat cukup bagus ketika acara bedebah disiarkan," ujar Kimung.

Di tahun 1993, sebuah studio rekaman dengan nama Palapa, sekaligus sebagai tempat anak-anak muda nongkrong didirikan oleh Kang Memet. Di tempat ini, anak-anak Ujung Berung diberikan kesempatan untuk melakukan rekaman musiknya sendiri. Pada tahun 1995 Yayat dari Jasad dan Dinan membentuk Ekstrim Noise Grinding (ENG). Sebuah tempat tongkrongan yang juga melahirkan zine, sebuah media komunitas dengan nama Revrogram, kepanjangan dari Revolusi Program.

Dari sini komunitas makin berkembang. Grup-grup band pun makin bertambah. Cikal bakal nama Ujung Berung Rebels sendiri muncul pada tahun 1997. Saat itu, band-band di Ujung Berung memiliki keinginan untuk membuat album kompilasi dengan nama Ujung Berung Rebels.

Namun kemampuan finansial komunitas tidak mencukupi untuk menyelesaikan produksi rekaman sampai tuntas. Melalui bantuan dari salah satu anggota Pas Band, Richard, akhirnya terhubunglah mereka dengan sebuah major labels. Walau kemudian nama album dirubah menjadi Independen Rebels. Namun, sampai saat ini, nama Ujung Berung Rebelslah yang dipertahankan. Sebuah komunitas, cair, tanpa hirarki, tapi memiliki solidaritas yang tinggi. Sekitar 16 band tergabung dalam komunitas ini. Beberapa grup seperti Forgotten pernah merilis albumnya di Jerman pada tahun 1997, Jasad yang terjual 10 ribu copy di Amerika. Begitu pula Burgerkill yang sempat mendapat kontrak dari salah satu label Internasional. Walau akhirnya, semangat independensi pulalah yang membuat Burgerkill memilih hengkang.

Tak hanya musik, dari komunitas ini lahir berbagai kreatifitas yang memberdayakan ekonomi kaum muda Ujung Berung. Seperti fesyen yang sempat melahirkan distro Rebelion, distro kedua di kota Bandung walau kini sudah bubar. Selain itu ada perusahaan sablon, penerbitan sampai komunitas literasi dengan nama Minorbook.