Bandung - Bukan pertama kali band asal Indonesia melakukan tur ke negeri seberang. Namun, cara Burgerkill menyalam kampung halamannya menjelang keberangkatan ke Australia sungguh istimewa.
Untuk menyapa fansnya di Negeri Kangguru, Eben, Ramdhan, Andris, Agung dan Vicki akan melakoni The Invasion of Noise, Western Australian Tour 2009 pada 20 Februari sampai 1 Maret. Ada lima kota di Australia Barat yang akan hingar bingar dengan Burgerkill sebagai band utamanya.
Namun hajatan Burgerkill tidak semudah kedengarannya. Sebagian besar biaya perjalanan rombongan yang berjumlah delapan orang termasuk manajer Jamie dan dua kru harus ditanggung sendiri. Masalah yang tidak mudah untuk diselesaikan Eben cs saja.
Kondisi ini ternyata direspon scene death metal di Bandung. Lebih luas lagi, berbagai komunitas kreatif juga pemerintah mengambil peran. Dituturkan Jamie, Indag Jabar dengan lugas mengeluarkan rekomendasi untuk Burgerkill sebagai duta industri kreatif yang juga membawa materi budaya lokal ke Australia. Sambil komunitas dan personal-personal yang merasa terwakilkan oleh Burgerkill, menyiapkan acara pengumpulan dana yang dihadiri Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf.
Dana Rp 40 juta lebih yang terkumpul di acara fund rising, juga bantuan fasilitas dan lainnya memang sangat berarti. Tetapi lebih besar dari itu, gerakan massal komunitas, berkolaborasi dengan birokrasi, menunjukkan potensi tersembunyi dari apa yang sebenarnya bisa dilakukan bersama untuk satu tujuan yang positif.
Malam pengumpulan dana yang digelar di Ballroom Grand Hotel Hyatt, Rabu (4/2/2009), lebih pas diartikan sebagai pengumpulan dana untuk komunitas musik, kreatif, budaya, yang adalah irisan dari potret kemandirian sipil.
Burgerkill tidak hanya sebuah band musik metal. Mereka berangkat dari lapak di timur Kota Bandung bernama Ujung Berung. Tumbuh bersama band-band lain sekampung halaman, hingga menginvasi negeri seberang, tetapi tidak pernah berpaling atau dipunggungi oleh komunitasnya.
Jejak ‘musik metal’ sering kali bias oleh persepsi yang sebenarnya tidak kalah absurd. Dinilai sebagai musik hingar bingar kaum pemberontak dan berbudaya ‘hitam’.
Padahal di dalam sebenarnya banyak nilai-nilai orisinil yang positif. Di pangkalnya, budaya lokal tersimpul mati. Sementara jika ditarik ke ujung, muncul nilai-nilai ekonomi yang terus bertumbuh.
Mengupas Jawa Barat atau Kota Bandung dengan budayanya, dimana dan siapa yang memberi apresiasi nyata terhadap karinding -kesenian Sunda yang menghilang dalam 300 ratus tahun terakhir-? Dimana kendang penca, ngibing atau bahkan debus dilakoni generasi muda bahkan anak-anak?
Bukan mengatakan di tempat lain tidak ada, tetapi bagi simpul-simpul komunitas metal Kota Bandung juga Jawa Barat, hal tersebut adalah jamak. Padahal, komunitas ini didominasi anak muda, pewaris masa depan, yang secara global sedang diserang budaya apatis.
Sektor ekonomi diisi oleh industri-industri clothing skala kecil hingga besar. Terkait erat juga sablon kaos/printing hingga distro-distro yang menjual produk-produknya. Di luar itu masih banyak ragam marchandise dan aksesoris, pembuat sepatu, usaha sound system bahkan tukang cukur yang tumbuh di tengah komunitas.
Keberadaan wakil gubernur dan beberapa jajaran dinas Provinsi Jabar dan Kota Bandung, setidaknya memberikan sinyal positif. Keterbukaan yang sangat dibutuhkan untuk bisa melihat dan melakukan sesuatu lebih tepat sasaran.
Reaksi berbagai komunitas dan pemerintah untuk mengantar tur Burgerkill ke Australia adalah contoh riil yang kecil. Betapa luar biasa dampaknya jika kekompakan seperti ini juga terjadi secara terorganisir di komunitas-komunitas lain.

